Selasa, 05 Mei 2015

Kentut Sapi sebagai penyebab Pemanasan Global.


  Kemarin, saya sempat membaca sesuatu hal di suatu situs yang menyebutkan bahwa kentut sapi adalah salah satu sebab terjadinya pemanasan global/global warming. Mungkin beberapa dari kalian baru mengetahuinya karena selama ini kita mengira bahwa penyebab pemanasan global itu antara lain ialah CO2, CO, atau CFC (bukan nama restoran). Nah pasti kalian bertanya-tanya bukan, bagaimana bisa?


  Sapi termasuk hewan mamalia dari familia Bovidae dan subfamilia Bovinae. Sapi dipelihara untuk dimanfaatkan susu dan dagingnya sebagai bahan pangan. Kotoran sapi pun kini telah dimanfaatkan sebagai pupuk organik, sebagai bahan bakar alternatif pengganti bahan bakar fosil yang sudah mulai langka, bahkan sebagai media pembenihan cacing tanah, yang nantinya digunakan sebagai bahan obat.

  Tapi tahukah anda, bahwa selama ini sapi ternyata menjadi salah satu penyebab global warming?

  Tak dapat dipungkiri bahwa penyebab pemanasan global bukan hanya semata-mata karena bahan-bahan kimia yang saya sebutkan di atas. Ada bahan kimia lain yang bertanggungjawab atas pemanasan global ini, yaitu gas metana.

  Mungkin belum banyak orang yang tahu tentang gas metana. Metana adalah gas anaerobik yang dihasilkan dari aktivitas mikroorganisme saat menguraikan bahan-bahan organik. Perlu diketahui bahwasanya gas metana mengandung emisi efek rumah kaca 23 kali lebih ganas ketimbang dengan gas CO2. Gas metana dihasilkan melalui proses yang berlangsung secara alamiah. Salah satu faktor yang dapat meningkatkan jumlah gas metana selain yang tersimpan di dasar laut pada kutub bumi adalah meningkatnya populasi ternak.

  Selama ini ternyata sapi merupakan salah satu hewan ternak penyumbang terbesar gas metana. Sistem pencernaan sapi yang sangat lambat menjadi alasan mengapa binatang itu menghasilkan banyak gas metana, khususnya pada kentut sapi.

  Dalam upaya memahami dampak dari “angin surga” yang dihasilkan oleh sapi-sapi terhadap pemanasan global, para ahli kemudian mengumpulkan gas yang berasal dari dalam perut sapi. Gas itu dimasukkan ke dalam tanki plastik yang diletakkan di atas punggung binatang memamah biak ini. Peneliti dari Argentina menemukan fakta bahwa gas metana dari sapi menyumbang lebih dari 30% total emisi yang menyebabkan efekrumah kaca negara itu. Sebagai salah satu negara penghasil daging sapi terbesar di dunia, Argentina mempunyai lebih dari 55 juta ekor sapi yang merumput di Pampas.

  Guillermo Berr, seorang peneliti dari Institut Nasional Teknologi Agrikultur mengatakan bahwa setiap sapi memproduksi 8000 sampai 1,000 liter emisi setiap hari. Metana yang juga dihasilkan oleh tempat pembuangan sampah, tambang batubara dan pipa gas yang bocor, ternyata 23 kali lebih efektif dalam menjerat panas di atmosfer daripada CO2. Para peneliti di Argentina sekarang sedang melakukan percobaan diet untuk sapi-sapi itu untuk memperbaiki sistem pencernaan dan diharapkan menurunkan suhu di bumi.

  Tetapi ternyata ada cara lain untuk menekankan jumlah gas metana yang terkandung dalam kentut/kotoran sapi tersebut, yaitu dengan memanfaatkan limbah teh hitam.

  Adalah Dewi Ratih Ayu Daning, mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), terpilih untuk mengikuti kompetisi dunia, Simposium Nutrisi dan Kesehatan Binatang Internasional Altech ke-26, di Kentucky, Amerika Serikat, 16-19 Mei 2010 berkat inovasinya memanfaatkan limbah teh hitam untuk mengurangi produksi gas metana pada peternakan sapi.

  Daning mencoba memanfaatkan limbah teh hitam dari pusat penelitian teh dan kina Bambung di Ciwidey, Bandung. Selama ini limbah teh hitam itu hanya dimanfaatkan sebagai pupuk. "Saya manfaatkan sebagai pakan, sehingga punya nilai lebih," katanya. "Kalau hanya untuk pupuk, lebih baik menggunakan kotoran sapinya saja."

  Limbah teh hitam itu dicampur dengan dedak halus dan cacahan rumput raja sebagai ransum pakan sapi. Hasilnya, produksi gas metan turun hingga 40% dibanding ransum pakan sapi yang tidak dicampur dengan limbah teh hitam.

  Menurut Daning, limbah teh hitam mampu menekan jumlah mikroba yang memproduksi gas metan. Itu sebabnya produksi gas metan menjadi berkurang. Sayangnya, penelitian ini masih sebatas di laboratorium. "Belum dicobakan pada hewan," katanya.

  Saya berharap pemanfaatan limbah teh hitam dapat segera di aplikasikan kepada hewan sehingga dapat mengurangi tingkat pemanasan global yang disebabkan oleh sapi-sapi tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar